MATEMATIKA DAN FILSAFAT
Dalam diskusi sehari-hari, seringkali terjadi kerancuan
hubungan antara matematika dengan filsafat. Ada yang mengatakan bahwa
matematika merupakan cabang dari filsafat, bahkan ada yang mengatakan bahwa
filsafat dan matematika tidak berhubungan. Tulisan sederhana ini berusaha
memahami arti kedua istilah itu serta hubungannya.
Kata "matematika" berasal dari bahasa Yunani Kuno mathema,
yang berarti pengkajian, pembelajaran. Matematika
merupakan suatu ilmu pemikiran manusia yang bersifat logis, artinya
dalil-dalilnya dapat bersumber dari intuisi dan dibuktikan secara logika
menurut akal manusia, yang disajikan dengan simbol-simbol atau lambang sebagai
bahasa komunikasi yang universal, artinya dapat diterima dan dipahami dengan
sama oleh semua ilmuwan tanpa ada penafsiran yang berbeda. Matematika adalah ilmu yang abstrak dan deduktif. Secara
etimologis matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar.
Ini yang membedakan matematika dengan ilmu, dimana ilmu lebih menekankan hasil observasi
atau eksperimen di samping penalaran. Hal ini
juga menegaskan bahwa matematika bukanlah suatu ilmu. Beberapa cabang
matematika, adalah aljabar,
arithmatika, trigonometri, statistika, geometri dan lainnya.
Seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles (382–322 SM)
mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang kebenaran. Immanuel Kant
(1724 –1804) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi
pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, filsafat
artinya adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat
segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Dari pandangan beberapa ahli
dapat disimpulkan bahwa filsafat mempunyai beberapa cabang, yaitu : (1) Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika
atau di luar
jangkauan pengalaman manusia, (2) Logika: filsafat
tentang pikiran yang benar dan yang salah, (3) Etika: filsafat
tentang perilaku
yang baik dan yang buruk, (3) Estetika: filsafat
tentang kreasi
yang indah dan yang jelek, (4) Epistomologi: filsafat tentang
ilmu pengetahuan, (5) Filsafat-filsafat
khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat
sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan dan sebagainya
Dalam sejarah yunani kuno sekitar 640-546 sebelum masehi, di Miletus dari pikiran seorang bernama Thale yang merupakan ahli matematika Yunani pertama, muncul istilah
filsafat dan geometri. Matematika dan filsafat merupakan bidang yang setara,
yang satu tidak di atas yang lain. Keduanya mempunyai persamaan dan perbedaan,
Persamaan antara Matematika dan Filsafat :
|
Hal
|
Matematika
dan Filsafat
|
|
Pembuktian
|
Tidak
memerlukan eksperimen
|
|
Sifat
|
Abstrak
|
|
Pengetahuan
|
Rasional
|
|
Kedudukan
|
Tidak
tergantung ilmu
|
|
Cara
berfikir
|
Sistematis
|
Perbedaan antar Matematika dan Filsafat :
|
Hal
|
Matematika
|
Filsafat
|
|
Kajian
|
Tertentu
|
Pengalaman
Manusia
|
|
Pembuktian
|
Harus
|
Tidak
harus
|
|
Penafsiran
|
Sama
|
Berbeda
|
|
Metode
|
Deduktif
|
Bebas
|
|
Proses
|
Perhitungan,
Penalaran
|
Penalaran
|
Interaksi antara
filsafat dan matematika itu dapat dilihat pula dari adanya padanan dari konsep dan problema pada
masing-masing bidang pengetahuan tersebut. Misalnya saja filsuf merenungkan
soal-soal keabadian,keterbatasan, ruang dan waktu, kebetulan,
evolusi, genus dan kuantitas. Sebagai padanannya ahli matematik mempelajari
ketakterhinggaan, limit, geometri, probabilitas, kontinuitas, himpunan dan bilangan Jadi terdapat
pengertian-pengertian yang sejajar diantara kedua bidang tersebut seperti
keabadian-ketakterhinggan, keterbatasan-limit,
ruang dan waktu-geometri, kebetulan-probabilitas,
kuantitas-bilangan,
evolusi-kontinuitas, genus-himpunan, kuantitas-bilangan,
Dari sejarah, persamaan dan perbedaan
serta padanan antara matematika dan filsafat dapat menandakan bahwa matematika
dan filsafat merupakan kajian yang berkembang bersama-sama dengan saling
memberikan persoalan-persoalan sebagai bahan masuk dan umpan balik dan saling
berhubungan erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar