PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
DI SEKOLAH
Tujuan pendidikan menurut UU SISDIKNAS No. 20 Tahun
2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
Matematika merupakan salah satu bidang
studi yang diajarkan dari tingkat dasar sampai dengan tingkat lanjut untuk
mencapai tujuan tersebut. Perkembangan
pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika. Oleh karena itu untuk menguasai dan menciptakan teknologi
di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Dengan
kata lain matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah
dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut
diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola,
dan memanfaatkan informasi untuk menghadapi tantangan hidup yang selalu
berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Pada dasarnya
tujuan mata pelajaran matematika di pendidikan dasar adalah supaya siswa mampu
(1) memahami konsep dasar matematika, (2) melakukan penalaran, (3) memecahkan
masalah matematika, (4) mengetahui aplikasi matematika dalam ilmu pengetahuan
atau kehidupan, dan (5) menerapkan dalam kegiatan sehari-hari secara sederhana.
Hasil Ujian Nasional tingkat SMP/MTs yang
diumumkan tanggal 1 Juni 2013 diperoleh data nilai rata-rata ujian nasional
untuk bidang studi matematika rendah, bahkan rata-rata terendah diantara bidang
studi lain. Hasil nilai yang rendah juga diperoleh pada
kegiatan penilaian yang lain, seperti ulangan harian, ulangan semester dan
semacamnya. Keadaan ini sangat ironis dengan kedudukan dan peran matematika
untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan, mengingat matematika merupakan ‘raja’
dan ’pelayan’ ilmu dan pengetahuan lain.
Ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa ternyata matematika hingga saat
ini belum menjadi pelajaran yang difavoritkan dan cenderung dianggap sulit di
kalangan peserta didik. Ada beberapa penyebab fenomena ini, diantaranya (1) metode pengajaran yang kurang tepat, kurang
variasi dan kurang efektif, (2) peran guru dalam penguasaan materi dan
keterampilan menyampaikannya kurang maksimal, (3) materi ajar yang terlalu sulit
atau justru terlalu mudah, (4) sikap guru yang kurang bijaksana, seperti
emosional, merendahkan siswa, tidak adil dan lainnya (5) siswa hanya dilatih
mengerjakan soal-soal tanpa diiringi penguasaan konsep. Hal ini menyebabkan
siswa kurang berminat, tidak tertarik dan merasa bosan mengikuti pelajaran ini
sehingga tidak ada keinginan untuk mengerti, memahami dan menguasainya, siswa
kurang aktif, kurang kreatif dan kurang inisiatif. Tentu saja ini akan
berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
Guru, khususnya guru
matematika merupakan ujung tombak dalam mengatasi masalah-masalah ini.
Diperlukan guru yang ideal, guru yang benar-benar menguasai materi ajar, piawai
dalam menyampaikan materi, bijaksana dan jeli melihat kemampuan siswa serta
menggunakan metode pengajaran yang variatif. Dalam menyampaikan materi,
misalnya, hendaknya juga diselingi dengan terapan-terapan matematika terkini
baik dalam ilmu pengetahuan lain maupun dalam kehidupan, selain itu, perlu pula
ada semacam ‘hiburan’, seperti permainan matematika yang terkait dengan materi,
bahkan bisa pula dengan humor ( tentunya ada batasan ) dengan tetap menjaga
wibawa guru. Alhasil dengan berbagai strategi ini, siswa akan antusias, kritis
dan proaktif dalam mengikuti proses pembelajaran, rumus-rumus atau
perhitungan-perhitungan yang tadinya sulit dan rumit menjadi lebih mudah
dipahami sehungga secara tidak langsung akan menjadikan matematika sebagai pelajaran yang favorit.,
sehingga tujuan dari pembelajaran matematika akan tercapai dan akan berimbas
baik pada prestasi belajar siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar